web tracker Kesamaan Konsep Pendidikan Finlandia dan Ki Hadjar Dewantara

Kesamaan Konsep Pendidikan Finlandia dan Ki Hadjar Dewantara

Kesamaan Konsep Pendidikan Finlandia dan Ki Hadjar Dewantara

Dua tahun silam, dalam pidatonya yang bertajuk "Gawat Darurat Pendidikan Indonesia" , Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedam memaparkan a

Siswa SMK N 1 Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan Ciptakan Alat Tambal Ban Portabel
english material for 12 grades, senior high school, new curriculum
Jembatan Suramadu Mencemakam , Bonek Sweeping Kendaraan Ber Plat N

251114121207_selmat-hari-guru-jadi-trending-topic

Dua tahun silam, dalam pidatonya yang bertajuk “Gawat Darurat Pendidikan Indonesia” , Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedam memaparkan adanya kesamaan konsep pendidikan Finladia dengan konsep pendidikan yang di usung oleh Ki Hadjar Dewantara

Ia menuturkan, kesamaan pertama merujuk pada kebijakan pemerintah Finladia untuk menempatkan stadarisasi pendidikan secara proporsional.

Konesep Ini sama dengan buah pikiran Ki Hadjar Dewantara dalam buku “Pusara” (1940) yang menyebutkan

“Jangan menyeragamkan hal hal yang tidak perlu atau tidal bisa diseragamkan. Perbedaan bakat dan keadaan hidup anak dan masyarakat yang satu dengan yang lain harus menjadi perhatian dan diakomodasi

Masi merajuk pada buku yang sama, “Pusara”, terlihat kesamaan lain konsep pendidikan Finladia dengan Ki Hadjar Dewantara. Pemerintah Finladia menekankan pengaruh besar kesetaraan pada kinerja pendidikan, dengan pernyataan Ki Hadjar Dewantara berikut ini :

“Rakyat perlu diberi hak dan kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas sesuai dengan kepentingan hidup kebudayaan dan kepentin

Sekitar 78 tahun yang lalu, dalam buku Keluarga, Ki Hadjar Dewantara berpendapat “Anak-anak tumbuh berdasarkan kekuatan kodratinya yang unik, tak mungkin pendidik ‘mengubah padi menjadi jagung’, atau sebaliknya.” Konsep yang sama jika merujuk pada pandangan pemerintah Finlandia yang menganggap standarisasi kaku dan berlebihan merupakan musuh kreativitas.

Kesamaan yang terakhir muncul dalam Mimbar Indonesia (1948) saat Ki Hadjar Dewantara menganggap “Bermain adalah untutan jiwa anak untuk menuju ke arah kemajuan hidup jasmani maupun rohani.” Secara singkat, Finlandia juga selalu menekankan bahwa anak harus bermain.

Fakta-fakta kesamaan konsep pendidikan Finlandia dengan Ki Hadjar Dewantara inilah yang membuat Anies Baswedan berujar: “Ironis ketika negara lain menerapkan prinsip-prinsip pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang ditulis puluhan tahun lalu dan sukses meningkatkan kinerja pendidikan mereka… saat kita sendiri semakin terasing dari pemikiran-pemikirannya

 

COMMENTS

WORDPRESS: 0